Kamis, 28 November 2013

MENUNGGU WAKTU

Bermula dari semilir angin berbau amis
Dimana ombak menghantam tepian
Matahari menyengat menyinari
Pasir yang gatal terasa halus di kaki
Tapi ada sesuatu di sana

Ketika hari menjadi, waktu pun terlarut
Di bawah naungan malam yang dingin
Berbekal napas dan lampu yang redup
Di sana kita meluncur menunggu takdir

Di hadapan jalan yang terbentang menuju kegelapan
Menelusuri jejak air yang gelap dan dingin
Dimana lumpur bercampur segala macam
Dan ketika seseorang menjerat keabadian
Di sana lah kita bersama selalu
Keabadian bersama yang terjerat entah karena kebetulan atau kesengajaan

Meluncur saat hari mulai temaram
Cerita-cerita singkat mulai terlantun
Dan visi yang terucap entah dengan tulus
Jalan berbatu dan duri menancap
Air mengguyur selebat rerontokan dedaunan belimbing
Bermaksud atau pun tidak, namun hati tetap berteguh
Dan jika waktu tiada bersikap, maka mulut pun akan terucap
Dan jika mulut pun tidak terjawab, biarkan takdir yang mempermainkan kita

-Tiara E. Ardi-
#281113#

Tidak ada komentar:

Posting Komentar