Minggu, 22 Desember 2013

HUJAN

Hujan,
Rintikanmu terdengar menenangkan
Membawakan lagu pada suasana hatiku yang sendu
Perasaan bercampur aduk yang membuncah di dalam dada
Menelan bulat-bulat semua isi kepalaku

Hujan,
Tiada hari tanpa kata
Rasa yang melebur dalam jiwa
Untaian air yang terlantun doa
Percikan makna yang merajut cerita

Hujan,
Engkau membawa lampau kembali
Ketenangan masa lalu yang terpatri
Mimpi-mimpi indah yang menjadi
Lamunan angan di dalam asa

-Tiara E. Ardi-
#221213#

Kamis, 28 November 2013

MENUNGGU WAKTU

Bermula dari semilir angin berbau amis
Dimana ombak menghantam tepian
Matahari menyengat menyinari
Pasir yang gatal terasa halus di kaki
Tapi ada sesuatu di sana

Ketika hari menjadi, waktu pun terlarut
Di bawah naungan malam yang dingin
Berbekal napas dan lampu yang redup
Di sana kita meluncur menunggu takdir

Di hadapan jalan yang terbentang menuju kegelapan
Menelusuri jejak air yang gelap dan dingin
Dimana lumpur bercampur segala macam
Dan ketika seseorang menjerat keabadian
Di sana lah kita bersama selalu
Keabadian bersama yang terjerat entah karena kebetulan atau kesengajaan

Meluncur saat hari mulai temaram
Cerita-cerita singkat mulai terlantun
Dan visi yang terucap entah dengan tulus
Jalan berbatu dan duri menancap
Air mengguyur selebat rerontokan dedaunan belimbing
Bermaksud atau pun tidak, namun hati tetap berteguh
Dan jika waktu tiada bersikap, maka mulut pun akan terucap
Dan jika mulut pun tidak terjawab, biarkan takdir yang mempermainkan kita

-Tiara E. Ardi-
#281113#

Selasa, 23 Juli 2013

RUMAH ITU

Jendela di rumah itu pecah!
Hey, tahu tidak jendela-jendela di rumah itu pecah?
Rumah itu menjadi dingin
Angin masuk dari arah manapun jendela-jendela itu berada
Tapi sekarang jendela-jendela itu sedang diperbaiki
Satu demi satu, pecahan demi pecahan dirangkai lagi
Banyak tetangga yang membantu memperbaikinya
Ku berharap esok mentari bersinar terang
Agar rumah itu menjadi hangat lagi
Tapi nampaknya langit selalu sendu beberapa hari ini
Mudah-mudahan saja hujan dan petir tidak datang menghampiri lagi
Untung saja para tetangga berbaik hati membuatkan perapian
Jadi rumah itu akan sedikit lebih hangat di malam hari
Ya Tuhan, semoga esok dan seterusnya mentari bersinar terang
Agar rumah itu menjadi selalu hangat di bawah teriknya mentari
Dan semoga esok jendela-jendela itu telah selesai diperbaiki
Agar rumah itu terlindungi dari angin malam yang membekukan

-Tiara E. Ardi-
#210713#
Bukan Hanya Aku

Saat langit siang sendu, ternyata ada sinar matahari yang menerobos awan
Saat langit malam mendung, tiba-tiba ada bintang yang mengintip dari baliknya
Saat hujan turun, tak disangka ada pelangi yang menghiasinya
Selalu saja ada warna yang menghibur jiwa
Kata orang tidak ada yang namanya teman sepenanggungan?
Tapi aku punya, walaupun hanya segelintir saja
Mereka seperti berlian di tengah hamparan pasir
Mereka memang tidak tanpa cela
Mereka bahkan sering mencelaku
Tapi, hey!
Kata seseorang, berteman saja dengan malaikat bila kamu mencari teman yang tanpa cela
Aku hanya mencari teman yang sempurna
Karena Tuhan berkata manusia adalah makhluk ciptaan-Nya yang paling sempurna
Mereka memang gila
Tapi mereka menyelamatkanku dari kegilaan hidup
Saat aku sedih mereka memang tidak ikut bersedih
Tapi mereka malah berubah menjadi badut yang menghiburku
Dengan cara-cara yang tidak biasa mereka sangat menyenangkan
Dan dengan cara-cara yang tidak biasa pula mereka bisa sangat menjengkelkan
Tapi, hey!
Bukankah kita selalu menertawakan kesengsaraan kita?
Membuat lelucon tentang penderitaan kita dulu
Bernostalgia menceritakan hal yang sama selama bertahun-tahun
Tetapi tetap saja masih membuat kita tertawa terpingkal-pingkal
Atau ingatkah dulu?
Ketika kita berkhayal hal-hal gila terjadi saat “detik penuh penderitaan”
Atau berekspektasi tentang rencana-rencana besar kita
Sepertinya sekarang memang telah menjadi lelucon belaka
Tapi bukankah itu masa penderitaan yang indah?
Memori menggelikan yang sekarang kita pikir “amat bodoh mau melakukannya”
Dan aku amat bersyukur memiliki kalian di dalam memoriku yang amat terbatas


-Tiara E. Ardi-
#160713#

Kamis, 11 Juli 2013

SELAMAT MEMASUKI BULAN RAMADHAN YANG SUCI INI
SELAMAT BERPUASA BAGI YANG MENJALANKANNYA
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
SEMOGA KITA MEMASUKI RAMADHAN DENGAN HATI YANG SUCI

:)

SALAM, TEA
The One

In my journey
In my short and long journey
There were light and darkness and twilight
They come and go
Just greet or even spin a yarn
So many greetings and goodbye
And introduction and farewell
From one become many
And from many there is the one
Sunshine and storm
Rain and rainbow
The time goes by
Just pass then go
There is the one stay in me
Against the time that goes by
Like the sun, like the moon
Like the universe inside me
There is the one stay in me

-Tiara E. Ardi-
#040713#

Kamis, 13 Juni 2013

KEGELAPAN YANG ABADI

Aku masuk ke dalam malam di bawah naungan malam
Mencoba mencari ketenangan jauh di bawah sana di perut bumi
Tali yang menjuntai dan dentingan logam setia menemaniku
Di dalam peluh aku bernafas menghirup aroma kegelapan
Aroma guano menyeruak masuk ke dalam penciumanku
Dengan sekelumit cahaya aku menjelajahi malam yang tidak pernah terjamah siang
Keindahan yang terselubung tersingkap kemanapun mataku terarah
Lekukan indah ciptaan tangan Tuhan,
Kilauan kristal yang bertarung dengan waktu,
Atau semua kehidupan yang bergantung padanya
Tetes demi tetes air adalah kehidupan baginya
Sesuatu yang membentuk dirinya namun juga dapat menghancurkan dirinya
Sunyi, sunyi, sunyi, dan menenangkan, itulah dirimu
Dengan berbalur lumpur aku pun kembali
Ke atas sana dimana aku menyapa matahari yang telah tiba di ufuk timur
Dan aku melepaskan nafas di tengah udara yang berlalu-lalang
Mengucapkan sampai jumpa padamu tempat dimana aku akan kembali lagi

-Tiara E. Ardi-
#110613#

Senin, 13 Mei 2013


Aiedail

Dikala gelap masih menyelimuti bumi
Dikala dingin masih membekukan tulang
Dikala panggilan Tuhan siap menyambut fajar

Yang paling bersinar di antara yang lain
Yang terindah diantara berjuta bintang
Yang selalu menyapaku selepas ku terjaga

Dimanakah kau berada saat ini?
Apakah kau bersembunyi dibalik awan mendung yang menggantung tipis di tepian langit?
Aku bersumpah melihat bintang jatuh di pagi ini
Tapi tidak menemukanmu yang selalu ku nanti
Ke manakah ku harus mencari?
Sosokmu yang terindah di pagi hari
Hey bintang fajar!
Ke manakah dirimu pergi?

-Tiara E. Ardi-
#130513#

Kamis, 02 Mei 2013

IBU

Waktu telah berlalu, sangat lama semenjak hari itu
Dulu engkau begitu tinggi di hadapanku, terlihat muda dan begitu kuatnya
Sebegitu kuatnya, menggendong anak-anakmu menempuh jarak yang cukup jauh
Menjaga kehidupan dan seisinya dimana aku termasuk di dalamnya
Mencintai dan mengasuh buah hati yang mungkin tidak memahamimu saat itu
Sementara engkau mengenyampingkan kesenanganmu semata

Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun
Waktu berlalu dengan cepat dan juga lambat pada kodratnya
Engkau tetap menjalankan rutinitas yang menjemukan bagiku tanpa lelahnya
Terkadang jalan menjadi sulit, terlalu banyak lubang untuk dilalui
Tapi engkau tangguh menghadapinya, setangguh ksatria terkuat di bumi ini
Engkau telah menempuh perjalanan panjang ini dengan ketabahan yang mengagumkan

Hingga tiba malam ini, ketika tanpa sengaja aku melihatmu dari belakang
Dan tampaklah rambut putih yang sudah merajalela kepalamu yang dulunya hitam
Warna yang menandakan betapa tuanya dirimu kini
Warna yang membuat diriku terkejut betapa cepatnya waktu berlalu
Warna yang menampar diriku hingga terpuruk merenungkan waktu yang telah berlalu
Mengingatkan bahwa aku belumlah dapat mengembalikan apa yang telah engkau berikan
Cinta, pengorbanan, kerja keras, dan segala yang engkau punya

Empat bait tulisan ini tidak akan dapat menggambarkan maafku
Empat bait tulisan ini tidak akan dapat mewakili syukurku
Empat bait tulisan ini tidak akan dapat mengucapkan terima kasihku padamu
Empat bait perenunganku di tengah malam menjelang pagi yang menanti
Empat bait yang kutulis hanya untukmu seorang,
IBU

-Tiara E. Ardi-
#020513#

Rabu, 01 Mei 2013

Sang Kelana

Sang Kelana,
Menapak bumi menuju puncak tertinggi
Berjalan turun hingga ke perut bumi
Di langit ia terbang bebas seperti burung
Di lautan ia berenang selincah ikan

Sang Kelana,
Menyapa hewan-hewan seperti kawan
Menyentuh tetumbuhan seperti sutra
Menikmati desir angin seperti surga
Menyambut butir hujan yang mengeroyok dirinya

Sang Kelana,
Itu kamu, juga aku, juga kami, juga kita
Sang Kelana,
Yang rupawan, yang tidak rupawan, yang bijak, yang tidak bijak
Sang Kelana,
Yang berbicara, yang diam, yang mendengarkan, yang tidak mendengarkan
Sang Kelana,
Yang mengamati, yang acuh, yang memberi, yang meminta
Sang Kelana,
Yang sering tertawa, tapi sering menangis
Sang Kelana, itulah Sang Kelana



-Tiara E. Ardi-
#250413#
~ persembahan untuk kawan-kawan seperjuangan ~

Kamis, 18 April 2013


SORE INI

Awan mendung, rintik hujan, gelegar petir, sore ini. Akankah pelangi datang? Membawa senyuman yang menghiasi langit senja. Memberiku secercah harapan untuk menghibur hati yang lara.

Sore ini, matahari bagai ditelan langit. Tertutup awan hitam hingga malam menjemput senja. Kicau sore burung-burung cantik tersamar oleh tetes air hujan. Memberikan suara ketenangan yang mencekam.

Sore ini, ketika sepi menghampiri aku. Sunyi seperti goa yang mati tanpa tetes air. Menunggu dirimu yang mungkin tidak akan datang hingga fajar berlalu esok hari. Seperti mengharap matahari akan bersinar esok hari, seperti mengharap kedatanganmu.

Dalam sepi, dalam diam, dalam terang di tengah kegelapan. Aku berharap kepada langit malam yang diam. Agar matahari terbit esok hari, membawa senyumanmu yang kunantikan. Dimana aku meminta kepada waktu agar membeku pada saat indah itu.

-Tiara E. Ardi-
#02042013#

Salam Perkenalan


Kertas Kosong, kenapa?

Karena kertas kosong dapat diisi dengan apa saja yang kita suka. Entah itu tulisan, gambar, atau hal lainnya. Puluhan, ratusan, hingga ribuan cerita fakta dan fiksi akan mengisi kertas kosong ini. Dan kertas kosong akan menjadi tidak kosong lagi saat halaman terakhirnya dalam kehidupan ini telah terisi, maka dimulailah cerita baru lainnya yang abadi.

Paduan warna akan mengisi kertas kosong ini, seperti warna-warni yang ditawarkan oleh kehidupan. Lantunan musik akan menghiasinya dengan nada-nada dan lirik-lirik yang bercampur aduk. Namun gambaran kehidupan tetap akan terlukiskan dengan indah bila kita melihatnya dari sisi yang tepat. Hmm, rasanya terlalu puitis untuk dideskripsikan. Jadi, kita akan lihat seperti apa nantinya isi kertas kosong ini.

Selamat menikmati…